kepalaku basah
mataku terbelah
tangan dan kakiku pun melelah
hingga seluruh tubuhku gerah
karena didihnya seisi darah
yang parah terperah
di bawah , jam dinding merah
yang ikut resah
menunggu jiwa ini menghapus salah
yang gundah ,
gelisah . . . .
kepalaku basah
mataku terbelah
tangan dan kakiku pun melelah
hingga seluruh tubuhku gerah
karena didihnya seisi darah
yang parah terperah
di bawah , jam dinding merah
yang ikut resah
menunggu jiwa ini menghapus salah
yang gundah ,
gelisah . . . .
Udah lulus?
hmmm. nunggu hasil ujian ya?
wah, agak susah ketemu alamat baru (tapi ketemu juga)
Bur Rasuanto juga kalo bikin puisi tidak terlalu mementingkan kata2 metaforis, Sutarji juga, kata2 sdudah terbebas dari beban makna,
…biarlah gelisah jiwa jadi penanda tindak raga yang salah…(sensitifitas yang mulai pudar di jaman ini)
Oke, broer, terus berkarya…